Jumat, 17 Januari 2020

OH, MY DIRECTOR! Eps 2

Assalammualaikum readers! Kembali lagi bersama gue, Diah... Kali ini gue mau ngelanjutin cerbung yang sebelumnya sebelum perkuliahan kami dimulai kembali. So, kritik dan saran yang membangun sangat kami butuhkan. Oke gausah lama-lama deh, langsung cuss aja... Enjoy and happy reading guys!

OH, MY DIRECTOR!

Episode 2


     Pada tanggal 20 bulan 10 tepatnya merupakan syuting hari ke-17. Kali ini, Sarah tiba di lokasi syuting bahkan jauh lebih awal daripada sang sutradara. Sambil menunggu kru film berkumpul, Sarah berdiri di jembatan tangga untuk mencari udara segar seorang diri. Tak lama kemudian, Sarah melihat Fatur dari kejauhan menghampiri Sarah dan berkata akan mengajaknya makan malam bersama setelah syuting berakhir. Sarah tak menyangka ia berkata seperti itu. Namun, ketika Sarah hendak mengiyakannya, tiba-tiba Fatur menghilang seketika dari hadapannya. Ia heran dan terkejut. Dan tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pundaknya dari belakang. Ketika ia menengok ke belakang, ia dibuat terkejut ketika melihat Fatur sudah ada di belakangnya. 
"Aaaaaahhh......hant....", teriak Sarah dengan sangat kencang. Fatur yang keheranan, langsung sigap menutup mulut Sarah.
"Ssssssttt.... Kamu kenapa sih? Pagi-pagi udah teriak. Toak aja kalah kali! Nanti dikira aku abis ngapa-ngapain kamu lagi!" omel Fatur.
"Hah? Bukannya barusan kamu sedang ngobrol di depan aku, tapi kok kamu udah di belakang tiba-tiba?" tanya Sarah keheranan.
"Ngobrol gimana sih? Orang aku aja baru dateng. Kamu salah orang kali?!" jawab Fatur yang keheranan.
"Masa sih?" sahut Sarah dengan penuh kebingungan.
"Udah, sekarang kamu ke ruang make up sana, 45 menit lagi syuting udah harus dimulai untuk kejar target" ujar Fatur sembari pergi menemui kru yang lain.
Saat jeda syuting, Sarah masih terheran-heran dengan kejadian sebelum syuting dimulai.          Untuk melegakan pikirannya, Sarah curhat kepada Nida.
"Kalau hantu... Kayaknya gak mungkin deh" pikir Nida.
"Terus apa dong?" tanya Sarah yang semakin penasaran.
"Mungkin itu cuma halusinasi lu doang kali" ujar Nida.
"Akhir-akhir ini kayaknya gua suka mikirin dia deh, tapi untuk apa gua mikirin dia terus?" pikir Sarah.
"Ahh, gua tau! Mungkin itu pertanda lu mulai suka sama dia, jadi secara tidak langsung halusinasi itu muncul sesuai pikiran dan khayalan lu!" sahut Nida yang merasa persepsinya tidak salah kali ini.
"Benarkah? Apa mungkin gua sedang jatuh cint...", belum sempat melanjutkan pembicaraannya, Fatur datang dan meminta waktunya untuk mengobrol berdua. Ia mengatakan bahwa ia akan mentraktirnya makan malam setelah syuting berakhir. "Gue gak mimpi kan?" gumam Sarah dalam hati.
     Setelah syuting selesai, mereka berdua pergi makan malam bersama. Sebelum pergi, Fatur menanyakan makanan kesukaan Sarah. Sarah mengatakan bahwa ia menyukai burger. Tanpa pikir panjang, Fatur membawanya ke Restoran Burger ellit di Jakarta. Sesampainya di restoran tujuan, mereka menikmati obrolan hangat sambil makan malam melepas lelah.
"Ohya, aku gak pernah tau keadaan keluargamu, gimana kabar orang tuamu?" tanya Fatur.
"Aku tinggal sama ibuku sudah 20 tahun, ayahku entah dimana, ia menghilang tanpa sebab ketika aku berusia 3 tahun. Bagaimana denganmu?" ujar Sarah sembari tanya balik.
"Aku iri melihatmu mendapat kasih sayang seorang ibu." jawab Fatur.
"Apakah ibumu sudah meninggal?" sahut Sarah.
"Iya, selain itu aku juga tidak tau keberadaan adik perempuanku sampai sekarang, aku harap nanti masih bisa bertemu dengannya" ujar Fatur dengan nada yang penuh kesedihan.
"Kita sama-sama merasakan kehilangan, semoga Tuhan segera mempertemukan kita dengan keluarga kita. Karena bagiku, keluarga adalah harta yang paling berharga di dunia" ujar Sarah.
"Aku juga berharap demikian, ohya aku punya sesuatu yang ingin aku berikan untukmu" ujar Fatur sambil memberikan kado tersebut ke tangan Sarah.
"Wah, gelang anyaman ini desainnya sangat bagus", puji Sarah.
"Apakah kamu menyukainya?" tanya Fatur.
"Tentu saja, mulai besok aku akan memakainya" jawab Sarah dengan senyum kebahagiaan.
     Keesokan harinya, lelaki berjaket cokelat dengan sepatu katsnya menghampiri Fatur. Ternyata dia adalah Razif sang  produsernya.
"Tur, gua butuh bantuan lu" ucap Razif dengan malu-malu.
"Gak usah sungkan, katakan saja", jawab Fatur.

Razif mengeluarkan sebuah surat dari saku jaketnya dengan wajah yang gugup sembari berkata "Tolong berikan surat ini untuk....Sarah."

Sabtu, 28 Desember 2019

OH, MY DIRECTOR! Eps 1

Assalamualaikum readers!!!!!! Gimana kabar kalian semua? semoga selalu sehat ya.......Nah balik lagi bareng gue Diah Pitaloka. Udah lumayan lama juga ya gue gak koar-koar di sini tak lain dan tak bukan karena tugas kuliah yang bejibun banyaknya serta UAS yang udah ngejar-ngejar kita kayak setan.......Kalian tahu lah, gak mudah buat kita bisa sering-sering dapat hari libur......Okey! Berhubung udah pada liburan, dan gue sama si Hafizah janji buat update cerita pas liburan.  Kali ini gue bakal post cerita lagi semoga kalian semua pada suka ya.....oiya karena ini cerbung jadi jangan lupa ikuti terus cerita-cerita ini di tiap episodenya......oke....nggak usah koar-koar lama-lama, langsung aja.....Happy reading guys

OH, MY DIRECTOR!
Karya Diah Pitaloka

Episode 1

          Fajar terbit menyinari Ibukota yang dipenuhi gedung-gedung pencakar langit. Ya, itulah Kota Jakarta yang ramainya hampir tidak pernah absen. Di suatu perumahan yang cukup ellit di Jakarta, hiduplah seorang director termuda yang saat itu sedang naik daun. Ia bernama Fathur Mahendra. Ia tinggal bersama ayahnya yang seorang wakil Direktur perusahaan elektronik ternama di Jakarta yang bernama Abas.

"Ayah, aku pamit dulu", ujar Fatur.
"Baiklah, semoga lancar terus film yang kamu sutradarai ya nak" ,jawab ayahnya dengan segudang harapan terhadapnya.
"Terimakasih ayah, aku akan memberitahumi ketika filmnya sudah rilis" ucap Fatur.
"Harus dong", sahut ayahnya.
          Fatur datang sangat awal ke lokasi syuting. Ini adalah film ke dua yang sedang ia sutradarai. Tak lama kemudian muncul seorang wanita yang sedang mengomel tiada henti. Ternyata dia adalah Sarah yang merupakan salah satu aktris di film yang Fatur sutradarai.
"Da, gua tuh kesel banget dari kemarin tau gak!" omel Sarah yang merupakan salah satu aktris film yang Fatur sutradarai.
"Kenapa lagi sih?" tanya Nida yang merupakan temannya juga sang production designer film.
"Ya itu, gara-gara sutradara sialan", grutu Sarah tiada henti.
"Dia kayak gitu kan demi kebaikan film kita Sar", ujar Nida sembari menenangkan Sarah.
"Ya iya sih, tapi akting nangis itu gak mudah Da, kalau diomelin kayak gitu terus bukannya bikin gua bisa mendalami karakter, tapi malah menurunkan mood syuting tau gak!" grutu Sarah.
"Sabar Sarah, namanya juga proses, jalani dan nikmati aja", jawabnya dengan santai.
"Ishh" , lagi-lagi Sarah menggrutu dengan raut wajah kesal.
          Ya, maklum tahun ini adalah pertama kalinya Sarah syuting film perdana yang ia bintangi. Kemudian Sarah langsung di make up dan segera pergi shoot. Di lokasi syuting tersebut, Fatur menghampiri Sarah.
Fatur : "Untuk scene kali ini, kamu harus bisa memicu emosi penonton nantinya, kamu harus bisa mengeluarkan emosimu dengan baik pada scene ini. Kamu harus bisa, oke?"
Sarah : "Aku udah biasa marah-marah, gak usah khawatir" jawab Sarah dengan muka jengkelnya.
Lima jam kemudian setelah syuting selesai, Fatur menghampiri Sarah dengan raut wajah yang terlihat begitu senang.
"Sarahh..", sapa Fatur.
"Iya kak, eh pak sutradara, ada apa?" jawab Sarah keceplosan.
"Umur gua masih 25, panggil aja 'kak', gak usah terlalu formal kok, santai aja" sahut Fatur dengan enjoy.
"Oke deh kalau gitu" jawab Sarah dengan tenang.
"Ohya, aktingmu kali ini sangat bagus, terimakasih ya" ucap sang sutradara dengan senyum yang berbinar di wajahnya.
"Hah? Serius?", tanya Sarah tak percaya dengan pujiannya.
"Iya", jawab Fatur dengan jujur.
"Hmm, baguslah kalau gitu, aku bakal lebih kerja keras lagi" ucap Sarah dengan lega.
"Ohya, kamu udah makan belum?" tanya Fatur dengan penuh perhatian.
Sarah menggelengkan kepalanya. Belum sempat bertanya, Fatur sudah dipanggil oleh asisten produser untuk melaksanakan meeting, dan segera mengucapkan selamat tinggal kepada Sarah dengan lembut.
          Setiba di stasiun, Sarah membeli camilan ringan di alfaexpress. Sambil menunggu kereta, ia duduk sambil makan camilan ringannya. Tapi tiba-tiba ia teringat kejadian saat setelah selesai syuting. Sarah merasa heran, entah kenapa ia merasa hari ini sutradaranya begitu lembut dan perhatian kepada Sarah. Padahal, kemarin-kemarin ia sering diomelin sutradanya tersebut. "Tumben amat ya, kemarin dia marah-marah terus kayak singa mau makan anaknya, tapi sekarang dia sangat lembut & perhatian. Apa mungkin... Dia berkepribadian ganda kayak di drama-drama korea gitu?" gumam Sarah dalam hati dan imajinasinya hingga ia tidak menyadari bahwa kereta yang ia tuju sudah melaju kembali. "Astaga, aku jadi ketinggalan kereta gara-gara dia, aish!!" omel Sarah.
          Setelah sampai rumah, Sarah langsung pergi ke ranjang tidurnya. Namun, baru sejenak ia memejamkan matanya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. "Aish, siapa sih, ngeganggu gua tidur aja sih" omel Sarah sembari mengambil ponselnya di meja. Lalu Sarah begitu terkejut ketika melihat bahwa Fatur, sang sutradaranya yang menelponnya. Jantung Sarah berdetak dengan cepat. "Angkat enggak angkat enggak angkat enggak", pikir Sarah sambil menghitungnya dengan jari. Namun ia memutuskan untuk tidak mengangkat telepon darinya, dan langsung melanjutkan tidurnya tanpa pikir panjang.



BERSAMBUNG

Rabu, 18 Desember 2019

BERUBAH

Assalamualaikum wr.wb. Halo Readers... Salam Literasi!  Weissssss,dah lama banget gak update cerita nih.....Oke....karena ini udah mau libur, dan gue gabut banget, jadi gue bakal post lagi cerita. tapi bukan dari cerita gue. Yups! cerita karangan sobat gue, Diah Pitaloka (kasih tepuk tangannya). Maaf banget ya karena gue belum pernah ngepost cerita, cuma koar-koar aja di bagian pembuka ini :v Tapi tenang, karena bentar lagi mau liburan gue bakal sering-sering ngepost cerita buat ngilangin gabut gue,,,,karena emang gak tau mau ngapain lagi, efek singglness;( Oke, gak usah lama-lama basa-basinya, langsung aja cussss baca ya! happy reading, and have fun, guys!!!



Berubah
Karya Diah Pitaloka


          Terik matahari pada siang hari menyinari sudut-sudut ruang di berbagai tempat. Tampak dua orang wanita bertopeng datang dari pojok area di suatu tempat. Dua orang tersebut menghampiri seorang pria yang sedang meminum minuman keras seorang diri.
"Hey, apa kau sadar apa yang telah kau lakukan?" tegur wanita bertopeng pertama sambil mengambil & membuang botol alkohol yang sedang pria itu minum.
"Siapa kalian? Kalian tidak ada hak untuk melarangku!" berontak Raka dengan lantang.
"Hal yang telah kau lakukan itu sudah merusak moral bangsa dan agama" tegur wanita bertopeng ke 2 yang disebelah kanannya.
"Benar. Akibat perbuatanmu, banyak generasi penerus bangsa yang terpengaruh hal-hal negatif seperti yang kamu lakukan." sahut wanita bertopeng pertama dengan tegas.
"Jika orangtuamu melihatmu, pasti orangtuamu sangat malu atas perbuatanmu!" sahut kembali oleh wanita bertopeng ke 2.
"Orangtuaku? Mana mungkin orangtuaku peduli terhadapku!" jawab Raka dengan tidak ada rasa tak bersalah sedikitpun.
"Tidak peduli? Orangtuamu telah merawatmu hingga dewasa, apakah itu masih disebut tidak peduli?" jawab wanita bertopeng pertama dengan ketus.
"Mau sampai kapan kamu seperti ini? Kamu harus sadar bahwa apa yang telah kamu perbuat selama ini adalah jalan yang salah dan merugikan dirimu sendiri juga." tegur wanita bertopeng kedua tanpa henti.
"Jangan sampai kau menyesal di kemudian hari." ujar wanita bertopeng pertama untuk kalimat terakhirnya.
"Tapi...." ,belum selesai menjawab, tiba-tiba dua orang tersebut menghilang tanpa jejak seperti angin, Raka bingung.
"Tunggu, jangan pergi!" ucap Raka sembari membuka matanya.
          Raka terkejut ketika melihat bahwa dia berada di lapangan hijau seorang diri dan langsung menyadari bahwa apa yang barusan ia alami hanyalah mimpi. Disitulah Raka merenung atas perbuatan yang ia lakukan selama ini seperti mabuk-mabukan, judi, bahkan memalak dompet teman baiknya. Nampaknya kini Raka mulai sadar. Tak terasa air mata Raka perlahan jatuh membasahi pipinya. "Ayah, ibu maaf, aku berjanji tidak akan mengecewakan kalian lagi, dan aku berjanji tidak akan membuang-buang waktuku untuk hal-hal yang tidak berguna" gumam Raka dalam hati sambil meninggalkan lapangan hijau tersebut. Tiba-tiba Doni dan Rendi datang menghampiri Raka.
"Ka, malem lagi kuy" ajak Doni.
"Maaf don, kayaknya gua gak bisa nih" jawab Raka.
"Tumben amat lu, kenapa emangnya?" sahut Rendi.
"Gua.... Lagi ada acara keluarga" jawab Raka dengan sedikit gugup.
"Yaudah, gua tunggu lu lain kali ya bro" ujar Doni sembari pergi meninggalkan Raka.
          Sembari lanjut jalan menuju rumah, di tengah jalan Raka nampak cemas terhadap dua orang teman tongkronganmya tadi. Dia nampak serba salah. Tapi dia tetap yakin kalau dia ingin secepatnya berubah apapun rintangannya. Tak lama kemudian, dari arah yang berlawanan Raka berpapasan dengan Vado yang merupakan teman baiknya yang selama ini tidak ia anggap.
"Vado..." ,sapa Raka
"Eh Raka habis darimana?" jawab Vado.
 "Hmm... Vado, gua minta maaf ya atas perbuatan gua selama ini yang udah malak dompet lu tiap hari. Sekarang gua sadar kalau ini salah dan gak seharusnya gua lakukan. Apalagi lu orang yang selalu ngingetin gua untuk berbuat baik tapi malah gua sia-siakan. Gua bener-bener minta maaf do.. Ohya uangnya gua ganti besok ya.", ucap Raka dengan tulus.
"Alhamdulillah kalau lu udah sadar. Lu  mau berubah aja gua udah senang kok. Sudah, sekarang gak usah dipikirin. Yang lalu biarlah berlalu, yang terpenting adalah tekad untuk berubah, iya gak?" jawab Vado dengan ikhlas.
"Lu bener-bener teman terbaik bagi gua do" ujar Raka penuh haru.
"Ah sa ae lu kutil hahaha" ledek Vado dengan enteng.
"Apa lu bilang?" , tanya Raka sambil mengejar dan menjahili Vado.
          Raka dan Vado kejar-kejaran sambil tertawa menikmati senja yang perlahan mulai tenggelam. Mereka berteman kembali setelah sekian lama. Samar-samar dari balik pohon ada seorang wanita misterius berbaju biru yg nampaknya sedang memperhatikan Raka. Wanita tersebut tersenyum dari jarak jauh seolah ada rahasia dibaliknya.

Senin, 23 September 2019

Misteri di Taman Akuatik


Assalamualaikum, guys! Kenalin, nama gue Hafizah Prajihadty Sakinah. Kalian semua bisa panggil gue Jihad atau Jiji. Eits! Tunggu dulu.....blog ini bukan punya gue aja....Nih kenalin satu lagi autor dari blog ini, namanya Diah Pitaloka, kalian bisa panggil Diah ya! Blog ini isinya nggak cuma cerpen, ya.... blog ini juga ada novelblognya juga loh! Jadi kalian bisa baca karya gue sama Diah....Oh iya, ini blog yang gue sama diah tulis iseng-iseng aja, jadi kalian bisa nikmatin dan dimohonkan kasih komentar yang membangun, ya! Kalau ada yang mau request tema juga boleh.....Tulis di kolom komentar ya!

Mau tau kayak apa aja cerita iseng-iseng gue sama Diah? Check it out guys!!! Happy reading ya guys!!!

(CERPEN)
Misteri di Taman Akuatik
Karya : Diah Pitaloka

Pada tahun 2022, mahasiswa prodi ekowisata IPB angkatan ke-56 mulai melakukan proker untuk tugas Kuliah Kerja Nyata (KKN) mereka disemester akhir. Ada sekelompok mahasiswa yang berencana mengerjakan tugas KKN mereka di Taman Akuatik Kebun Raya Bogor. Hal tersebut diusulkan oleh Arya. Namun raut wajah Diah menunjukkan bahwa ia seolah tidak setuju dengan usulan tersebut.
"Kamu kenapa, Di? Kok raut wajah kamu kayak gitu?" ujar Kinanti.
"Sepertinya perasaanku nggak enak deh, Kinan" jawab Diah resah.
"Nggak enak gimana?" tanya Kinanti lagi.
"Udahlah, nggak usah di pikirin juga" ujar Diah.
Minggu berikutnya, mereka melakukan penelitian di Taman Akuatik Kebun Raya Bogor pada siang hari. Sampai di Kebun Raya Bogor, mereka mendapat kabar bahwa Bela yakni teman sekelasnya meninggal dunia karena kecelakaan. Hal itu disampaikan oleh Doni kepada Naufal melalui via telepon. Mereka pun kaget mendengar kabar duka tersebut.
"Innalillahi wa innalillahi rojiun, teman kita Bela meninggal dunia pagi ini."ujar Naufal sembari geleng kepala.
"Innalillahi, aku benar-benar tidak menyangka" ujar Dery, raut wajahnya seolah ada hal yang sedang disembunyikan.
"Tanggung juga jika melayat ke rumah Bela hari ini" ujar Kinanti
"Ya betul, jarak rumah Bela dari sini lumayan jauh, mungkin sekitar 30 km dari sini" sambung Diah.
"Bagaimana jika besok pagi kita melayat ke rumah Bella?" tanya Naufal. Yang lain pun mengangguk setuju.
Pada saat observasi lingkungan, Dery kebagian melakukan penelitian dibagian ujung Taman Akuatik seorang diri. Di bagian ujung Taman Akuatik, Dery menemukan sebuah KTM.
"Hah! Mengapa bisa ada KTM Bela di sini?" Dery berujar kaget.
 
Tiba-tiba Dery seolah mendengar suara Bela berkata, "Kamu jahat ya, Dery.....Kamu jahat.....". Dery mulai merinding, ia memberanikan diri untuk menoleh ke belakang. Ternyata tidak ada siapa-siapa di sekeliling Dery.
Diah, Kinanti, Arya, dan Naufal meneliti beberapa tumbuhan di tempat yang berbeda dengan Dery.
"Aku sudah mencari jenis tumbuhan ini di berbagai buku, tumbuhan ini sudah sangat langka di Indonesia."ujar Arya.
"Ya benar, tumbuhan ini bahkan hanya terdapat di pulau jawa dan pulau sumatera saja." sambung Diah.
"Kita sebagai generasi penerus bangsa harus bisa menjaga dan melestarikan tumbuhan ini supaya tidak punah" Kinanti menambahkan.
" Ya benar, kita juga nggak boleh menebang pohon sembarangan" ujar Naufal.
Tiba-tiba dari arah ujung, terlihat Dery lari dengan tergesa-gesa menghampiri Naufal, Arya, Kinanti, dan Diah dengan raut wajah ketakutan.
"Kamu kenapa, Dery?" tanya Naufal.
"It.. itu tadi, lihatlah....." jawab Dery menunjukkan KTM Bela yang baru saja meninggal tadi pagi.
"Bukankah itu KTM punya Bela?" tanya Kinanti
"Bagaimana bisa KTM Bela ada di tanganmu?" Diah ikut bertanya.
"Tadi aku menemukannya di ujung Taman Akuatik saat aku melakukan observasi di sekitar itu. Lalu aku seperti mendengar suara Bela di sana." jawab Dery sambil menunjukkan arah tempat dia melakukan observasi.
"Bagaimana kalau kita coba lihat ke sana?" usul Arya.
"Kayaknya nggak usah deh, lebih baik kita lanjutkan tugas proker ekowisata kita biar cepat selesai." ujar Diah.
"Sebenarnya aku takut, tetapi aku penasaran." ujar Kinanti.
"Kita coba lihat dulu aja. Siapa tahu, kita menemukan sesuatu. Dery, kamu tunjukkan jalannya." ujar Naufal
"Baiklah, tapi aku mengarahkan kalian dari belakang." jawab Dery.
Akhirnya, mereka berlima menuju Taman Akuatik bagian ujung. Dery mengikuti dan mengarahkannya dari belakang. Sesampainya di sana, mereka tidak merasakan hal-hal yang janggal seperti yang dirasakan oleh Dery.
"Sepertinya tidak ada yang aneh di sini, Der" ujar Arya sambil menoleh ke arah Dery di belakangnya, namun Arya kaget karena tidak ada Dery di belakangnya.
" Mana Dery?" Arya bertanya kebingungan.
Yang lain ikut kaget setelah menyadari bahwa Dery menghilang. Diwaktu yang bersamaan, Arya, Naufal, Diah, dan Kinanti mendapat telepon dari Dery secara bersamaan. Mereka merasa ada kejanggalan di sini. Bagaimana mungkin jika satu telepon genggam bisa menelpon 4 telepon genggam lain secara bersamaan.
"Teman-teman, Dery telepon aku" seru Kinanti
"Aku juga ditelepon Dery" sahut Arya.
"Aku juga dapat telepon dari Dery." ujar Diah
"Aneh, Dery juga telepon aku." Naufal kebingungan.
Mereka berempat pun merinding dan memutuskan untuk kembali dan segera mencari Dery. Biarlah untuk sementara waktu mereka tunda dulu tugas proker KKN mereka. Sampai akhirnya, Kinanti menemukan sebuah kertas yang bertuliskan "aku bersalah". Tulisan itu diyakini Kinanti bahwa itu adalah tulisan milik Dery. Tulisan tersebut ditulis menggunakan darah. Hilangnya Dery dan kejanggalan yang lainnya masih menjadi sebuah tanda tanya bagi mereka.
SELESAI

Gimana guys? Maaf ya kalau masih banyak kekurangan karena gue sama Diah masih pemula. jadi, dukung terus ya guys biar semangat nulisnya!!!!
Kalau gitu, sampai ketemu lagi ya diedisi selanjutnya!!! Jangan lupa, kita bakal update tiap  hari Selasa sama Sabtu. kita pamit dulu ya, Assalamualaikum, guys.....

Kenali Bangsamu, Kenali Pesona Destinasi Wisata Pulau Papua dalam Membangun Harapan Baru Bagi Bangsa di Sektor Pariwisata

Aktivitas dari rumah mungkin membuat sebagian besar orang jenuh selama masa pandemi yang tak kunjung berakhir ini. Namun, jika merencanakan ...