Selasa, 02 Maret 2021

PENEBUSAN

 

PENEBUSAN

Di salah satu sekolah menengah atas di kota Bogor, ada seorang perempuan yang memiliki semangat yang besar untuk mencapai impiannya yang begitu tinggi setelah lulus sekolah yakni kuliah di jurusan seni musik. Namun sayangnya, hal itu terhalang oleh kecacatannya. Ternyata perempuan itu adalah seorang perempuan tunanetra. Ninda, itulah namanya. Kecacatannya tersebut telah ia alami sedari usia 10 tahun akibat kecelakaan mobil kala itu. Namun ada satu hal yang istimewa darinya. Bahkan keistimewaan ini sangat jarang ditemui pada orang normal pada umumnya.

“Ra?” tanya Ninda sembari menepuk pundak teman sebangkunya. “Ada apa nin?” jawab Rara. “Denger-denger, minggu depan ada seleksi untuk festival seni ya?” tanya Ninda. Ehmm...denger-denger sih gitu, kenapa emangnya?” tanya Rara. “Emang kamu bisa apa Nin?” ejek Salsa dengan kencang dari belakang. Ninda sedih mendengar ucapan Salsa, namun Rara sebagai teman sebangkunya tidak tinggal diam. “Dia mau ikut ataupun engga bukan urusan kamu, kamu sendiri memangnya bisa apa? Celetuk Rara dengan nada menyindir. Salsa dengan sombongnya memamerkan masa lalunya. “Gini-gini, aku pernah ikut Indonesian Idol sampai tahap top 15 ya!” jawab Salsa. “Salsaku emang paling hebat soal seni, pengalaman manggungnya juga udah banyak” sahut Dila sambil meletakkan tangannya di bahu Salsa membela Salsa. “Iya tuh, apalagi sekarang Salsa lagi banyak endors akhir-akhir ini, traktir-traktir boleh lah” celetuk Aldi dari pintu kelas. Rara tak mau melihat Ninda diremehkan, dan balik menyindir sekumpulan teman-temannya yang meremehkan teman sebangkunya. “Hey, kalian pikir dunia seni  itu hanya di bidang vokal aja? Kayaknya kalian gak pernah main jauh ya?” omel Rara. Salsa, Dila, dan Aldi langsung membuang muka dan keluar kelas dengan muka jengkel. Ninda diam tanpa kata seolah sedang memikirkan sesuatu. Rara yang melihatnya seperti itu, mengerti apa yang sedang ia pikirkan. “Kamu...” Ninda dan Rara bertanya secara bersamaan. Namun, Rara mempersilahkan Ninda untuk berbicara duluan. “Ra, aku sebenernya pengen ikut seleksi band akustik, tapi...” ucap Ninda, namun belum selesai Ninda bicara, Rara langsung menyahut dengan cepat. “Kamu bingung karena belum punya timnya kan? Tanya Rara. Ninda mengangguk. Lalu, Rara bilang bahwa ia mempunyai teman dari kelas lain yang kebetulan temannya tersebut kekurangan satu atau dua orang agar timnya lengkap. “Itu si Farel dari kelas 12 IPS 2 katanya butuh pianist, tapi belum punya. Kalau kamu mau, nanti aku bilangin, gimana?” ucap Rara. Ninda tak mungkin menolak kesempatan langka ini.

Keesokan harinya di pagi hari, ketika Ninda hendak berjalan menuju kelasnya, ia tak sengaja menabrak seorang pria dari belakang dan terjatuh. Pria tersebut langsung mengulurkan tangannya dan membantunya bangun. Ninda segera meminta maaf padanya setelah bangkit. “Gapapa kok” ujar pria tersebut. Namun, pria tersebut melihat ada yang aneh dari mata Ninda. Ia seperti melihat tatapan mata Ninda berbeda dari tatapan orang pada umumnya. “Kamu...” belum selesai pria tersebut bertanya, Ninda langsung menyelanya. “Aku tuna netra kak, maaf gak sengaja nabrak kakak” jawab Ninda sambil menunduk malu. “Yaudah sini aku anter kamu ke kelas kamu. Kelas kamu dimana?” tanyanya. “Aku kelas 12 IPA 3” jawab Ninda. “Wah, kebetulan banget aku punya temen di 12 IPA 3.” Ujarnya sambil mencairkan suasana supaya lebih akrab. Setelah sampai kelas, Dila dan teman-temannya menghampiri Ninda. “Eh nin, Salsa abis release lagu barunya kemarin malem lho, mau denger gak?” tanya Dila. Ninda mengangguk penasaran. Dila meletakkan headseatnya di kedua telinga Ninda dan memencet tombol play dari handphonenya. Ninda kaget dan langsung melepas headseatnya. “Kenapa? Bagus kan?” tanya Dila sambil tertawa jahat. Salsa dan Aldi pun ikut menertawakannya. “Kalian gila ya?” omel Ninda. Tak lama kemudian Rara menghampiri Ninda ketika ia melihat ada keributan pada Ninda beserta teman-teman Salsa. “Kalian ngapain?!” tanya Rara dengan nada yang tegas. “Cuman ngasih tau musik yang baru di release Salsa kemarin doang kok, dianya aja yang aneh” jawab Dila sambil menyembunyikan kejadian yang sebenarnya. “Kalian sengaja ngasih denger ke aku musik dengan volume full keras, masih bilang aku yang aneh?” omel Ninda. “Oh gitu, kayaknya saraf otak kalian udah stadium 4 ya? Sindir Rara. “Dih gak jelas” sahut Salsa, tak lama kemudian Salsa dan teman-temannya pergi meninggalkan bangku Ninda. “Mau , maunya belain orang buta” sindir Aldi sembari meninggalkan Rara dan Ninda. Kemudian, Rara memberikan kabar baik kepada Ninda. “Nin, Farel setuju gabung tim band sama kamu” ucap Rara dengan penuh bahagia. “Serius nin? Beneran?” jawab Ninda yang sangat tidak menyangka akan kabar baik tersebut. Rara mengatakan bahwa setelah pulang sekolah, Rara akan membawanya ke Farel di ruang kesenian nanti sore setelah pulang sekolah. Ninda tak sabar menunggu.

Setelah pulang sekolah, Rara membawa Ninda ke ruang kesenian. Farel telah datang lebih dulu daripada Rara dan Ninda. “Rel, ini dia temenku, Ninda, yang bakal ngisi jadi pianist band kamu” ucap Ninda sembari menepuk bahu Farel dari belakang yang sedang memegang gitarnya. Farel terkejut ketika melihat Ninda ternyata orang yang ia temui tadi pagi ketika tak sengaja menabraknya dari belakang. “Oh, ini Ninda ternyata.” Ujar Farel. “Ini kayak suara cowok yang tadi pagi ketemu aku deh” sahut Ninda setelah mendengar Farel berbicara. “Iya, bener, aku Farel dari kelas 12 IPS 2, kebetulan kekurangan pianist” jawab Farel dengan lembut. “Yaudah kita langsung mulai aja yuk latihannya biar gak kemaleman nanti pulangnya.” Sambung Farel sembari mengajak teman-temannya yang lain untuk memulai. Rara pamit pulang duluan. Sebelum pamit, ia menyemangati Ninda dengan sepenuh hati. Setelah selesai latihannya, perlahan masing-masing dari mereka pulang ke rumah mereka. Tapi, Farel ingin berbicara sebentar pada Ninda sebelum pulang. “Kamu bener-bener hebat Nin, aku gak nyangka kamu mahir main piano, bahkan baru denger langunya aja udah tau not notnya, ini keistimewaan yang langka Nin, aku salut” puji Farel dengan sungguh-sungguh. Ninda tersenyum mendengarnya. “Aku berharap kita bisa dapet juara di festival seni kali ini” ujar Ninda. “Pasti!” sahut Farel dengan penuh percaya diri. “Udah hampir malem, aku anter pulang naik motor ya?” sambung Farel sembari menawarkan pulang bareng dengannya. Ninda sempat menolak karena tidak enak hati, tapi ia tidak punya pilihan selain menerimanya karena ia sadar bahwa waktu hampir larut malam. Salsa dan Dila tak sengaja melihat Ninda pulang bareng dengan Farel. “Sal, itu pacar kamu kok...” ujar Dila. “Dasar pelakor buta!” nyinyir Salsa sambil mengambil handphone dari sakunya dan memotretnya dan mengunggahnya di media sosial instagram miliknya. “Rasakan!” ujar Salsa dalam hati dengan muka kesal.

Keesokan harinya, ketika Ninda tiba di sekolah, ia mendengar banyak orang di sekitarnya yang menyindirnya dengan mengatakan bahwa ia pelakor. Ninda heran. Ia tidak mengerti apa yang mereka maksud. Dinda, cewek yang katanya paling alim bahkan sengaja memajukan salah satu kakinya untuk membuat Ninda tersandung dan terjatuh lalu menertawakannya bersama teman-temannya yang lain. Farel yang melihatnya dari jauh tak tega dan langsung menghampiri Ninda serta mengulurkan tangannya agar Ninda segera bangkit. Farel mengomeli Dinda dan teman-temannya yang telah sengaja membuat Ninda jatuh. Salsa melihat dari belakang dan langsung menghampiri mereka. “Rel, kamu ngapain sih nolongin dia, dia pelakor” sindir Salsa. “Maksud kamu apa sih Sa?” tanya Farel dengan heran. “Gak usah pura-pura, pasti dia kemarin minta tolong kamu anterin pulang kan? Modus yang gak jaman tau ga!” nyinyir Salsa dengan kata-kata pedasnya. “Itu aku sendiri yang sukarela nawarin dia buat pulang bareng karena udah hampir larut malam, kamu jangan asal ngomong! Kalau kamu sendiri gak percaya sama aku, mending kita putus aja sekarang! Aku juga udah muak sama cewek posesif macam kamu!” jawab Farel dengan tegas sembari pergi meninggalkan mereka. Salsa terkejut mendengarnya, air matanya pun berlinang, ditambah rasa malu yang ia hadapi saat ia diputusin pacarnya di hadapan banyak orang.

Rasa benci Salsa belum berhenti sampai disitu. Ketika hari festival seni tiba, Salsa membuat onar lagi. Ia membroadcast pesan singkat yang berisi ajakan untuk tidak menonton Winner Band (Grup band akustik Farel) melalui whatsapp. Sehingga saat Winner Band tampil, hanya juri dan beberapa orang saja yang menonton. Namun, ketika pengumuman tiba, tak disangka Winner Band memperoleh juara 1 dalam kategori band akustik. Farel, Ninda, dan teman-teman timnya senang dan tidak menyangka atas kemenangan dari kerja keras yang mereka peroleh. Bahkan Ninda sampai dihubungi oleh pihak Label Rekaman yang cukup ternama di Jakarta untuk direkrut menjadi seorang komponis di usianya yang masih terbilang belia karena kemampuannya dalam memainkan piano yang luar biasa. “Ninda, aku bangga sama kamu, kamu bisa sampai tahap ini, menghadapi banyak rintangan selama ini, juga bisa membuktikan bahwa kecacatan yang kamu miliki bukanlah alasan untuk menyerah, kamu bener-bener wanita yang kuat dan hebat” puji Rara dengan tulus sambil tersenyum penuh haru atas pencapaiannya. Saat tiba waktunya pendaftaran kuliah jalur prestasi, ia mencantumkan posisinya sebagai komponis di salah satu label rekaman di Jakarta dan berkat prestasinya tersebut, ia lolos di salah satu jurusan seni musik perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia dan juga mendapatkan beasiswa sampai lulus. Ninda sangat senang dan bersyukur. Sebagai wujud syukurnya, ia menemui makam ayah dan ibunya dan bercerita banyak hal di samping makam kedua orang tuanya mengenai perjuangan ia selama ini dalam mencapai cita-citanya. “Andai kakak kembarku tau” ucap Ninda dalam hati. Tak lama kemudian, Salsa menghampiri Ninda dari belakang dengan menepuk bahunya. “Maaf” ujar Salsa. Ketika Ninda menyadari itu suara Salsa, Ninda tak mengacuhkannya. “Aku udah memfitnah kamu, menghina kamu, menelantarkan kamu, tapi sekarang aku tau aku salah, tolong maafin aku” ucap Salsa dengan penuh penyesalan. “Menurut kamu sendiri, bagaimana kamu harus menebusnya?” tanya Ninda dengan cuek. “Aku akan mengembalikan mataku padamu, dan menjadi kakak kembar yang baik yang gak menelantarkan kamu seorang diri” jawab Salsa. Ninda heran dengan apa yang diucapkan Salsa barusan. “Apa? Kamu? maksudnya kamu kakak kembar aku yang mengilang pas aku umur 10 tahun?” tanya Ninda. “Iya” jawab Salsa dengan wajah sedih. “Oke. Aku gak akan mandang siapa kamu meskipun kamu sendiri kakak kembar aku, kamu harus nepatin janji kamu untuk mengembalikan mataku!” sahut Ninda dengan nada yang tegas. “Aku bakal nepatin omongan aku Nin, aku harap penebusan ini layak. Aku juga berharap, penebusan ini bisa menghapus kebencian diantara kita” jawab Salsa sambil meneteskan air matanya. Penebusan diantara mereka berakhir, mereka akhirnya kembali menjalani kehidupan normal bersama-sama dalam suka maupun duka.

SELESAI

Kamis, 25 Februari 2021

METODE SAMPLING HEWAN TANAH

 Assalammualaikum teman-teman semua... Akhirnya kita kembali lagi ya, tapi aku masih mau bahas blog ilmiah lagi nih. Jangan bosan-bosan ya! Blog kali ini aku kasih judul "Metode Sampling Hewan Tanah". Metode apa sih yang dipakai untuk sampling hewan tanah? Nah kalian masih ingat kan kalau minggu kemarin kita menggunakan metode pitfall traps? Kali ini berbeda teman-teman... Yang sekarang ini kita menggunakan metode Hand Shorting. Gimana sih caranya? Yuk disimak!

Berdasarkan ukuran tubuh, hewan tanah dapat dibedakan atas 3 kelompok, yaitu:

a. Mikrofauna: bila ukuran tubuh 20-200 mikron (contoh : Bakteri, Fungi)

b. Mesofauna: bila ukuran tubuh 200 mikron-1 cm (contoh : Acarina, Termines, Collembolan)

c. Makrofauna: bila ukuran tubuh lebih dari 1 cm (Cacing, Semut, Kelabang)

Penerapan metode sortir dengan tangan ini (hand shorting) dilakukan langsung di lapangan atau pada habitat yang diteliti, yaitu dengan memilih langsung hewan dari contoh tanah yang diambil. Metode sortir dengan tangan sangat cocok untuk menaksir populasi cacing tanah lho. Efisiensi dari metode ini berkisar antara 59-90%. 

Apa saja sih alat dan bahan yang diperlukan? Sekop dan tanah lahan. Yaps! itu saja...lebih simple dari yang sebelumnya kan? TENTU SAJA. Tapi metode ini mungkin membutuhkan sedikit tenaga nih, tapi tetap seru kok...hehehe

Langkah kerja :

1. Pilihlah tempat yang akan diamati fauna tanahnya

2. Tanah digali seluas 10x10 dan 20x20 dengan kedalaman 15 cm dan dipisahkan setiap 5 cm

3. Keberadaan fauna setiap lapisan tanah diamati

4. Fauna tanah dihitung dan diidentifikasi 

Kebetulan aku mempraktekkan ini juga bersama dengan teman satu kelompokku yang jarak lokasi antara kami berdua ini sangat sangat sangat super jauh sekali... Ya...bisa disebut...LDR lah kalau anak jaman sekarang bilang. Mau tahu hasilnya kayak apa? Let's scroll down ya teman-teman!


Yaps ini namanya cacing dengan nama latin Lumbricina

Nah kalau ini namanya siput telanjang dengan nama latin Gastropoda

Wah, ternyata fauna tanah itu bermacam-macam ya...Bagi kalian para pecinta hewan, boleh banget kalian coba nih...Meskipun fauna-fauna tanah ini terlihat menggelikan atau menjijikkan, tapi mereka punya peranan yang sangat penting lho untuk menyuburkan tanah yang kita pijak ini. Jadi, kita semua harus bersyukur akan keberadaan mereka. Oke? Aku akhiri sampai sini dulu ya teman-teman... aku mau lanjut nugas lagi nih hehehe. See you in next my scientific blog yaa... Bye!

Jumat, 19 Februari 2021

KEANEKARAGAMAN SERANGGA TANAH DI SEKITAR RUMAH

Halo teman-teman semua! Kembali lagi bersama aku, Diah Pitaloka, setelah sekian lama gak ngeblog. Kira-kira udah berapa bulan ya? saking lamanya jadi udah lupa wkwkwk. Oke kali ini aku mau ngeblog ilmiah nih, yang biasanya aku ngeblog cerpen tiba-tiba ngeblog ilmiah pasti pada kaget kan ya? hehehe. Kali ini aku mau membahas mengenai fauna tanah nih. Salah satunya mengenai serangga tanah...Hayo tebak serangga tanah ada apa aja? Yuk simak cerita edukasi aku ini yang sudah aku praktekkan di samping rumahku...

Serangga merupakan makhluk hidup yang mendominasi bumi. Kurang lebih 1 juta spesies serangga telah dideskripsi, dan diperkirakan masih ada sekitar 10 juta spesies serangga yang belum dideskripsi (Tarumingkeng, 2001, dalamm Ruslan 2009). Serangga ini adalah salah satu keanekaragaman jenis dari kelas avertebrata didalam filum arthropoda yang melimpah di Indonesia. Satu minggu yang lalu aku abis mengamati keanekaragaman serangga tanah dengan metode pitfall trap lho. Kayak gimana sih caranya? Yuk simak metodenya!

Alat dan Bahan:
1. Gelas plastik
2. 2 kayu ukuran sedang
3. Ember kecil
4. Detergen
5. Air

Simple kan alat dan bahannya?

Langkah kerja
1. Ukur garis transek sepanjang 2x2 meter
2. Buat lubang pada tanah dengan kedalaman yang sama tingginya dengan tinggi gelas plastik yang kita gunakan 
3. Tutup gelas plastik tersebut dengan ember kecil yang disanggah samping kanan dan kirinya dengan menggunakan kayu berukuran sedang
4. Diamkan selama 24 jam
5. Keesokan harinya amati serangga yang terjebak di dalam gelas plastik tersebut
6. Lakukan identifikasi serangga tersebut

Simple kan teman-teman semua? Nih aku kasih foto hasil pengamatan yang udah pernah aku praktekkan biar kalian bisa mencoba juga di rumah. Lumayan kan biar gak gabut-gabut amat gara-gara harus stay at home terus di masa pandemi yang belum kelar-kelar ini hehe.




Nah ini dia serangga yang tertangkap... Pasti pada tau lah ya? iyap semut hitam kecil dengan nama latin Monomorium minimum dengan ordo Hymenoptera yang berjumlah 1 ekor. 

Nah seperti itulah cara mengetahui keanekaragaman serangga tanah dengan metode pitfall trap. Terimakasih ya untuk teman-teman yang udah bersedia baca blog aku dari awal sampe akhir. Semoga ilmunya bermanfaat. Eitss jangan lupa untuk terus jaga kesehatan ya di kala pandemi ini. Sampai jumpa di blog aku selanjutnya ya....Bye!

Selasa, 23 Juni 2020

OH, MY DIRECTOR! Eps 3

OH, MY DIRECTOR!

Hello genks! Kembali lagi dengan cerpen series kita yang sudah lama gak upload berbulan-bulan wkwk... sorry ya genks kita lama ga upload lagi karena kemarin-kemarin kita sibuk kuliah onlen yang tugasnya gak usah ditanya lagi... bejibun gaes, sampe lupa makan dan hampir kekurangan gizi... untungnya gak kekurangan kasih sayang hehe... Oiya tetep stay #dirumahaja ya di masa pandemi covid 19 ini sambil baca cerita kita biar gak bosen dirumah wkwkwk... Okey, udah gak sabaran ya? Yaudah daripada intro lama-lama mending langsung cus aja deh. Happy reading gaes!!! jangan lupa kasih kritik dan saran ya supaya kedepannya kita bisa kasih cerita yang lebih seru lagiii....

Episode 3

Ternyata surat tersebut berisi tentang perasaan Razif terhadap Sarah. "Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi", gumam Fatur dalam hati. Di waktu jeda syuting, Natya sang asisten produser datang menghampiri Razif sambil membawa sebuah bungkusan.

"Razif, ini oleh-oleh dari Bandung untukmu." ujar Natya.

"Terimakasih ya, waduh jadi ngerepotin nih" jawab Razif dengan sungkan.

"Santai aja kok, gak usah sungkan" sahut Natya lalu pergi dengan senyuman yang merona di wajahnya ketika ia balik badan.

Sebelum syuting dimulai kembali, Fatur berkata kepada Sarah bahwa saat jeda syuting ia mengajaknya makan siang bersama. Tentunya Satah bahagia mendengarnya. Kemudian, saat jeda syuting, Sarah segera menunggu di tempat mereka berjanjian. Namun Fatur tak kunjung datang. Sarah tak bisa menunggunya lama-lama, ia langsung menelponnya. Tetapi teleponnya tidak diangkat. "Nih orang kemana sih" gumamnya dengan kesal. Ketika Sarah mencoba berkeliling lokasi syuting untuk mencari Fatur, ia berpapasan dengan Razif sang produser.

"Kamu kelihatan bingung. Sedang cari siapa" tanya Razif.

"Apa kamu lihat kak Fatur?" tanyanya.

"Sepertinya aku tadi sempat melihatnya sekilas di belakang taman" jawabnya.

Sarah segera menuju belakang taman saat itu juga. Dan sesampainy di belakanh taman, ia tak menyangka melihat Fatur sedang mengobrol dengan temannya yakni Nida sang assistant director sampai lupa dengan janjinya untuk makan siang bersama. Sarah kecewa. Razif yang diam-diam mengikuti Sarah langsung menghampirinya dari belakang dan mengajaknya makan siang bersama. Sarah tak punya pilihan lain selain mengiyakannya dengan terpaksa.

Hari itu syuting berakhir pukul 19.00. Setelah syuting selesai, Fatur menghampiri Sarah. Namun sikap Sarah kali ini berbeda. Ia tampak lebih bersikap dingin terhadapnya.

"Sarah, ada apa denganmu hari ini" tanya Fatur, tetapi Sarah mengabaikannya.

"Sarah aku minta maaf gak bisa makan siang bersamamu tadi, karena aku dan Nida sedang membicarakan penempatan lokasi syuting untuk kedepannya. Aku gak ada apa-apa kok sama Nida. Tolong jangan diambil hati." sambungnya.

Mendengar penjelasannya yang begitu tulus dan penuh kejujuran, Sarah cepat luluh dan langsung mengerti. Namun ia ingin memancing perhatiannya dan berpura-pura masih ngambek.

"Bagaimana jika aku mentraktirmu burgem favorit kamu untuk menebus kesalahanku?" ucap Fatur dan Sarah mengiyakannya tanpa pikir panjang.

Di malam hari itu, Razif berjalan di sepanjang jalan trotoar untuk pulang. Tak sengaja ia melihat Sarah dan Fatur sedang makan malam bersama dari balik kaca restoran di pinggir trotoar tersebut. Razif benar-benar cemburu melihat kedekatan mereka. Lalu ia melanjutkan perjalanannya dengan hati yang kecewa dan bertemu dengan Natya secara kebetulan. Mereka sempat mengobrol. Melihat wajahnya yang tampak murung, Natya cemas dan langsung menanyakan kondisinya saat itu juga. Lalu Razif menceritakan keluhannya pada Natya.

"Melihat Sarah begitu dekat dengan Fatur, aku benar-benar iri" ujarnya.

"Apakah kamu sangat mencintai Sarah?" tanya Natya.

"Tentu saja, sayangnya aku telat mencintainya" jawab Razif.

Natya kaget mendengarnya. Hati Natya benar-benar remuk saat itu juga. Ia tak tahan mendengarnya dan langsung mengungkapan perasaannya yang sesungguhnya.

"Kalau tahu begitu, mengapa kamu tidak melihat orang yang disampingmu?" tanya Natya penuh harap.

"Tapi...." ,belum sempat Razif melanjutkan pembicaraannya, Natya menyambung perkataannya.

"Aku tahu bahwa cinta tidak dapat dipaksakan. Mencintaimu adalah urusanku, mencintai yang lain itu urusanmu. Mengetahui perasaanmy itu sudah cukuo bagiku apapun jawabannya, aku pamit dulu" ujar Natya sembari pergi meninggalkan Razif dengan hati yang teguh.

 

BERSAMBUNG


Jumat, 17 Januari 2020

OH, MY DIRECTOR! Eps 2

Assalammualaikum readers! Kembali lagi bersama gue, Diah... Kali ini gue mau ngelanjutin cerbung yang sebelumnya sebelum perkuliahan kami dimulai kembali. So, kritik dan saran yang membangun sangat kami butuhkan. Oke gausah lama-lama deh, langsung cuss aja... Enjoy and happy reading guys!

OH, MY DIRECTOR!

Episode 2


     Pada tanggal 20 bulan 10 tepatnya merupakan syuting hari ke-17. Kali ini, Sarah tiba di lokasi syuting bahkan jauh lebih awal daripada sang sutradara. Sambil menunggu kru film berkumpul, Sarah berdiri di jembatan tangga untuk mencari udara segar seorang diri. Tak lama kemudian, Sarah melihat Fatur dari kejauhan menghampiri Sarah dan berkata akan mengajaknya makan malam bersama setelah syuting berakhir. Sarah tak menyangka ia berkata seperti itu. Namun, ketika Sarah hendak mengiyakannya, tiba-tiba Fatur menghilang seketika dari hadapannya. Ia heran dan terkejut. Dan tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pundaknya dari belakang. Ketika ia menengok ke belakang, ia dibuat terkejut ketika melihat Fatur sudah ada di belakangnya. 
"Aaaaaahhh......hant....", teriak Sarah dengan sangat kencang. Fatur yang keheranan, langsung sigap menutup mulut Sarah.
"Ssssssttt.... Kamu kenapa sih? Pagi-pagi udah teriak. Toak aja kalah kali! Nanti dikira aku abis ngapa-ngapain kamu lagi!" omel Fatur.
"Hah? Bukannya barusan kamu sedang ngobrol di depan aku, tapi kok kamu udah di belakang tiba-tiba?" tanya Sarah keheranan.
"Ngobrol gimana sih? Orang aku aja baru dateng. Kamu salah orang kali?!" jawab Fatur yang keheranan.
"Masa sih?" sahut Sarah dengan penuh kebingungan.
"Udah, sekarang kamu ke ruang make up sana, 45 menit lagi syuting udah harus dimulai untuk kejar target" ujar Fatur sembari pergi menemui kru yang lain.
Saat jeda syuting, Sarah masih terheran-heran dengan kejadian sebelum syuting dimulai.          Untuk melegakan pikirannya, Sarah curhat kepada Nida.
"Kalau hantu... Kayaknya gak mungkin deh" pikir Nida.
"Terus apa dong?" tanya Sarah yang semakin penasaran.
"Mungkin itu cuma halusinasi lu doang kali" ujar Nida.
"Akhir-akhir ini kayaknya gua suka mikirin dia deh, tapi untuk apa gua mikirin dia terus?" pikir Sarah.
"Ahh, gua tau! Mungkin itu pertanda lu mulai suka sama dia, jadi secara tidak langsung halusinasi itu muncul sesuai pikiran dan khayalan lu!" sahut Nida yang merasa persepsinya tidak salah kali ini.
"Benarkah? Apa mungkin gua sedang jatuh cint...", belum sempat melanjutkan pembicaraannya, Fatur datang dan meminta waktunya untuk mengobrol berdua. Ia mengatakan bahwa ia akan mentraktirnya makan malam setelah syuting berakhir. "Gue gak mimpi kan?" gumam Sarah dalam hati.
     Setelah syuting selesai, mereka berdua pergi makan malam bersama. Sebelum pergi, Fatur menanyakan makanan kesukaan Sarah. Sarah mengatakan bahwa ia menyukai burger. Tanpa pikir panjang, Fatur membawanya ke Restoran Burger ellit di Jakarta. Sesampainya di restoran tujuan, mereka menikmati obrolan hangat sambil makan malam melepas lelah.
"Ohya, aku gak pernah tau keadaan keluargamu, gimana kabar orang tuamu?" tanya Fatur.
"Aku tinggal sama ibuku sudah 20 tahun, ayahku entah dimana, ia menghilang tanpa sebab ketika aku berusia 3 tahun. Bagaimana denganmu?" ujar Sarah sembari tanya balik.
"Aku iri melihatmu mendapat kasih sayang seorang ibu." jawab Fatur.
"Apakah ibumu sudah meninggal?" sahut Sarah.
"Iya, selain itu aku juga tidak tau keberadaan adik perempuanku sampai sekarang, aku harap nanti masih bisa bertemu dengannya" ujar Fatur dengan nada yang penuh kesedihan.
"Kita sama-sama merasakan kehilangan, semoga Tuhan segera mempertemukan kita dengan keluarga kita. Karena bagiku, keluarga adalah harta yang paling berharga di dunia" ujar Sarah.
"Aku juga berharap demikian, ohya aku punya sesuatu yang ingin aku berikan untukmu" ujar Fatur sambil memberikan kado tersebut ke tangan Sarah.
"Wah, gelang anyaman ini desainnya sangat bagus", puji Sarah.
"Apakah kamu menyukainya?" tanya Fatur.
"Tentu saja, mulai besok aku akan memakainya" jawab Sarah dengan senyum kebahagiaan.
     Keesokan harinya, lelaki berjaket cokelat dengan sepatu katsnya menghampiri Fatur. Ternyata dia adalah Razif sang  produsernya.
"Tur, gua butuh bantuan lu" ucap Razif dengan malu-malu.
"Gak usah sungkan, katakan saja", jawab Fatur.

Razif mengeluarkan sebuah surat dari saku jaketnya dengan wajah yang gugup sembari berkata "Tolong berikan surat ini untuk....Sarah."

Sabtu, 28 Desember 2019

OH, MY DIRECTOR! Eps 1

Assalamualaikum readers!!!!!! Gimana kabar kalian semua? semoga selalu sehat ya.......Nah balik lagi bareng gue Diah Pitaloka. Udah lumayan lama juga ya gue gak koar-koar di sini tak lain dan tak bukan karena tugas kuliah yang bejibun banyaknya serta UAS yang udah ngejar-ngejar kita kayak setan.......Kalian tahu lah, gak mudah buat kita bisa sering-sering dapat hari libur......Okey! Berhubung udah pada liburan, dan gue sama si Hafizah janji buat update cerita pas liburan.  Kali ini gue bakal post cerita lagi semoga kalian semua pada suka ya.....oiya karena ini cerbung jadi jangan lupa ikuti terus cerita-cerita ini di tiap episodenya......oke....nggak usah koar-koar lama-lama, langsung aja.....Happy reading guys

OH, MY DIRECTOR!
Karya Diah Pitaloka

Episode 1

          Fajar terbit menyinari Ibukota yang dipenuhi gedung-gedung pencakar langit. Ya, itulah Kota Jakarta yang ramainya hampir tidak pernah absen. Di suatu perumahan yang cukup ellit di Jakarta, hiduplah seorang director termuda yang saat itu sedang naik daun. Ia bernama Fathur Mahendra. Ia tinggal bersama ayahnya yang seorang wakil Direktur perusahaan elektronik ternama di Jakarta yang bernama Abas.

"Ayah, aku pamit dulu", ujar Fatur.
"Baiklah, semoga lancar terus film yang kamu sutradarai ya nak" ,jawab ayahnya dengan segudang harapan terhadapnya.
"Terimakasih ayah, aku akan memberitahumi ketika filmnya sudah rilis" ucap Fatur.
"Harus dong", sahut ayahnya.
          Fatur datang sangat awal ke lokasi syuting. Ini adalah film ke dua yang sedang ia sutradarai. Tak lama kemudian muncul seorang wanita yang sedang mengomel tiada henti. Ternyata dia adalah Sarah yang merupakan salah satu aktris di film yang Fatur sutradarai.
"Da, gua tuh kesel banget dari kemarin tau gak!" omel Sarah yang merupakan salah satu aktris film yang Fatur sutradarai.
"Kenapa lagi sih?" tanya Nida yang merupakan temannya juga sang production designer film.
"Ya itu, gara-gara sutradara sialan", grutu Sarah tiada henti.
"Dia kayak gitu kan demi kebaikan film kita Sar", ujar Nida sembari menenangkan Sarah.
"Ya iya sih, tapi akting nangis itu gak mudah Da, kalau diomelin kayak gitu terus bukannya bikin gua bisa mendalami karakter, tapi malah menurunkan mood syuting tau gak!" grutu Sarah.
"Sabar Sarah, namanya juga proses, jalani dan nikmati aja", jawabnya dengan santai.
"Ishh" , lagi-lagi Sarah menggrutu dengan raut wajah kesal.
          Ya, maklum tahun ini adalah pertama kalinya Sarah syuting film perdana yang ia bintangi. Kemudian Sarah langsung di make up dan segera pergi shoot. Di lokasi syuting tersebut, Fatur menghampiri Sarah.
Fatur : "Untuk scene kali ini, kamu harus bisa memicu emosi penonton nantinya, kamu harus bisa mengeluarkan emosimu dengan baik pada scene ini. Kamu harus bisa, oke?"
Sarah : "Aku udah biasa marah-marah, gak usah khawatir" jawab Sarah dengan muka jengkelnya.
Lima jam kemudian setelah syuting selesai, Fatur menghampiri Sarah dengan raut wajah yang terlihat begitu senang.
"Sarahh..", sapa Fatur.
"Iya kak, eh pak sutradara, ada apa?" jawab Sarah keceplosan.
"Umur gua masih 25, panggil aja 'kak', gak usah terlalu formal kok, santai aja" sahut Fatur dengan enjoy.
"Oke deh kalau gitu" jawab Sarah dengan tenang.
"Ohya, aktingmu kali ini sangat bagus, terimakasih ya" ucap sang sutradara dengan senyum yang berbinar di wajahnya.
"Hah? Serius?", tanya Sarah tak percaya dengan pujiannya.
"Iya", jawab Fatur dengan jujur.
"Hmm, baguslah kalau gitu, aku bakal lebih kerja keras lagi" ucap Sarah dengan lega.
"Ohya, kamu udah makan belum?" tanya Fatur dengan penuh perhatian.
Sarah menggelengkan kepalanya. Belum sempat bertanya, Fatur sudah dipanggil oleh asisten produser untuk melaksanakan meeting, dan segera mengucapkan selamat tinggal kepada Sarah dengan lembut.
          Setiba di stasiun, Sarah membeli camilan ringan di alfaexpress. Sambil menunggu kereta, ia duduk sambil makan camilan ringannya. Tapi tiba-tiba ia teringat kejadian saat setelah selesai syuting. Sarah merasa heran, entah kenapa ia merasa hari ini sutradaranya begitu lembut dan perhatian kepada Sarah. Padahal, kemarin-kemarin ia sering diomelin sutradanya tersebut. "Tumben amat ya, kemarin dia marah-marah terus kayak singa mau makan anaknya, tapi sekarang dia sangat lembut & perhatian. Apa mungkin... Dia berkepribadian ganda kayak di drama-drama korea gitu?" gumam Sarah dalam hati dan imajinasinya hingga ia tidak menyadari bahwa kereta yang ia tuju sudah melaju kembali. "Astaga, aku jadi ketinggalan kereta gara-gara dia, aish!!" omel Sarah.
          Setelah sampai rumah, Sarah langsung pergi ke ranjang tidurnya. Namun, baru sejenak ia memejamkan matanya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. "Aish, siapa sih, ngeganggu gua tidur aja sih" omel Sarah sembari mengambil ponselnya di meja. Lalu Sarah begitu terkejut ketika melihat bahwa Fatur, sang sutradaranya yang menelponnya. Jantung Sarah berdetak dengan cepat. "Angkat enggak angkat enggak angkat enggak", pikir Sarah sambil menghitungnya dengan jari. Namun ia memutuskan untuk tidak mengangkat telepon darinya, dan langsung melanjutkan tidurnya tanpa pikir panjang.



BERSAMBUNG

Rabu, 18 Desember 2019

BERUBAH

Assalamualaikum wr.wb. Halo Readers... Salam Literasi!  Weissssss,dah lama banget gak update cerita nih.....Oke....karena ini udah mau libur, dan gue gabut banget, jadi gue bakal post lagi cerita. tapi bukan dari cerita gue. Yups! cerita karangan sobat gue, Diah Pitaloka (kasih tepuk tangannya). Maaf banget ya karena gue belum pernah ngepost cerita, cuma koar-koar aja di bagian pembuka ini :v Tapi tenang, karena bentar lagi mau liburan gue bakal sering-sering ngepost cerita buat ngilangin gabut gue,,,,karena emang gak tau mau ngapain lagi, efek singglness;( Oke, gak usah lama-lama basa-basinya, langsung aja cussss baca ya! happy reading, and have fun, guys!!!



Berubah
Karya Diah Pitaloka


          Terik matahari pada siang hari menyinari sudut-sudut ruang di berbagai tempat. Tampak dua orang wanita bertopeng datang dari pojok area di suatu tempat. Dua orang tersebut menghampiri seorang pria yang sedang meminum minuman keras seorang diri.
"Hey, apa kau sadar apa yang telah kau lakukan?" tegur wanita bertopeng pertama sambil mengambil & membuang botol alkohol yang sedang pria itu minum.
"Siapa kalian? Kalian tidak ada hak untuk melarangku!" berontak Raka dengan lantang.
"Hal yang telah kau lakukan itu sudah merusak moral bangsa dan agama" tegur wanita bertopeng ke 2 yang disebelah kanannya.
"Benar. Akibat perbuatanmu, banyak generasi penerus bangsa yang terpengaruh hal-hal negatif seperti yang kamu lakukan." sahut wanita bertopeng pertama dengan tegas.
"Jika orangtuamu melihatmu, pasti orangtuamu sangat malu atas perbuatanmu!" sahut kembali oleh wanita bertopeng ke 2.
"Orangtuaku? Mana mungkin orangtuaku peduli terhadapku!" jawab Raka dengan tidak ada rasa tak bersalah sedikitpun.
"Tidak peduli? Orangtuamu telah merawatmu hingga dewasa, apakah itu masih disebut tidak peduli?" jawab wanita bertopeng pertama dengan ketus.
"Mau sampai kapan kamu seperti ini? Kamu harus sadar bahwa apa yang telah kamu perbuat selama ini adalah jalan yang salah dan merugikan dirimu sendiri juga." tegur wanita bertopeng kedua tanpa henti.
"Jangan sampai kau menyesal di kemudian hari." ujar wanita bertopeng pertama untuk kalimat terakhirnya.
"Tapi...." ,belum selesai menjawab, tiba-tiba dua orang tersebut menghilang tanpa jejak seperti angin, Raka bingung.
"Tunggu, jangan pergi!" ucap Raka sembari membuka matanya.
          Raka terkejut ketika melihat bahwa dia berada di lapangan hijau seorang diri dan langsung menyadari bahwa apa yang barusan ia alami hanyalah mimpi. Disitulah Raka merenung atas perbuatan yang ia lakukan selama ini seperti mabuk-mabukan, judi, bahkan memalak dompet teman baiknya. Nampaknya kini Raka mulai sadar. Tak terasa air mata Raka perlahan jatuh membasahi pipinya. "Ayah, ibu maaf, aku berjanji tidak akan mengecewakan kalian lagi, dan aku berjanji tidak akan membuang-buang waktuku untuk hal-hal yang tidak berguna" gumam Raka dalam hati sambil meninggalkan lapangan hijau tersebut. Tiba-tiba Doni dan Rendi datang menghampiri Raka.
"Ka, malem lagi kuy" ajak Doni.
"Maaf don, kayaknya gua gak bisa nih" jawab Raka.
"Tumben amat lu, kenapa emangnya?" sahut Rendi.
"Gua.... Lagi ada acara keluarga" jawab Raka dengan sedikit gugup.
"Yaudah, gua tunggu lu lain kali ya bro" ujar Doni sembari pergi meninggalkan Raka.
          Sembari lanjut jalan menuju rumah, di tengah jalan Raka nampak cemas terhadap dua orang teman tongkronganmya tadi. Dia nampak serba salah. Tapi dia tetap yakin kalau dia ingin secepatnya berubah apapun rintangannya. Tak lama kemudian, dari arah yang berlawanan Raka berpapasan dengan Vado yang merupakan teman baiknya yang selama ini tidak ia anggap.
"Vado..." ,sapa Raka
"Eh Raka habis darimana?" jawab Vado.
 "Hmm... Vado, gua minta maaf ya atas perbuatan gua selama ini yang udah malak dompet lu tiap hari. Sekarang gua sadar kalau ini salah dan gak seharusnya gua lakukan. Apalagi lu orang yang selalu ngingetin gua untuk berbuat baik tapi malah gua sia-siakan. Gua bener-bener minta maaf do.. Ohya uangnya gua ganti besok ya.", ucap Raka dengan tulus.
"Alhamdulillah kalau lu udah sadar. Lu  mau berubah aja gua udah senang kok. Sudah, sekarang gak usah dipikirin. Yang lalu biarlah berlalu, yang terpenting adalah tekad untuk berubah, iya gak?" jawab Vado dengan ikhlas.
"Lu bener-bener teman terbaik bagi gua do" ujar Raka penuh haru.
"Ah sa ae lu kutil hahaha" ledek Vado dengan enteng.
"Apa lu bilang?" , tanya Raka sambil mengejar dan menjahili Vado.
          Raka dan Vado kejar-kejaran sambil tertawa menikmati senja yang perlahan mulai tenggelam. Mereka berteman kembali setelah sekian lama. Samar-samar dari balik pohon ada seorang wanita misterius berbaju biru yg nampaknya sedang memperhatikan Raka. Wanita tersebut tersenyum dari jarak jauh seolah ada rahasia dibaliknya.

Kenali Bangsamu, Kenali Pesona Destinasi Wisata Pulau Papua dalam Membangun Harapan Baru Bagi Bangsa di Sektor Pariwisata

Aktivitas dari rumah mungkin membuat sebagian besar orang jenuh selama masa pandemi yang tak kunjung berakhir ini. Namun, jika merencanakan ...